Depok — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Teknologi generatif dapat membantu mencari informasi, memahami konsep, menyusun gagasan, hingga mendukung berbagai aktivitas pembelajaran. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan penting: apakah semakin mampu menggunakan AI selalu membuat mahasiswa semakin efektif dalam belajar?
Pertanyaan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul The Janus face of AI literacy: a dual-pathway model of its mitigating and exacerbating effects on academic procrastination yang diterbitkan dalam Cogent Education, Volume 13, Issue 1 (2026). Artikel ini ditulis oleh Matrissya Hermita, Alia Rohani, Rama Dian Syah, Ruddy J. Suhatril, dan Siska Sartika dari Universitas Gunadarma. Artikel diterbitkan secara daring pada 23 Maret 2026 dengan DOI 10.1080/2331186X.2026.2644679.
Penelitian tersebut melibatkan 654 mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia yang menggunakan perangkat atau platform berbasis AI, baik untuk kepentingan akademik maupun nonakademik. Data dikumpulkan pada April hingga Juni 2025 dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan SmartPLS.
AI Tidak Selalu Menjadi Jawaban atas Prokrastinasi
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa literasi AI memiliki peran yang kompleks terhadap prokrastinasi akademik. Dalam penelitian tersebut, literasi AI berfungsi sebagai variabel mediator yang menghubungkan sejumlah faktor psikologis dengan kecenderungan mahasiswa menunda pekerjaan akademik.
Istilah “Janus face” dalam judul penelitian menggambarkan dua sisi tersebut. Di satu sisi, literasi AI dapat menjadi sumber daya psikologis yang membantu mahasiswa mengelola beban kognitif dan mendukung perilaku belajar yang lebih adaptif. Namun di sisi lain, penelitian menemukan bahwa literasi AI juga memiliki hubungan positif langsung dengan prokrastinasi dalam model yang diuji. Artinya, kemampuan menggunakan AI tidak secara otomatis berarti mahasiswa akan lebih terbebas dari kebiasaan menunda pekerjaan.
Temuan ini penting karena diskusi mengenai AI dalam pendidikan sering kali berhenti pada pertanyaan apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak. Penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih luas: yang perlu diperhatikan bukan hanya akses terhadap AI, tetapi juga bagaimana mahasiswa memahami, mengendalikan, mengevaluasi, dan menggunakan teknologi tersebut.
Ketika Perfeksionisme Mendorong Penundaan
Penelitian ini juga menempatkan faktor psikologis sebagai bagian penting dalam memahami prokrastinasi akademik. Hasil analisis menunjukkan bahwa perfeksionisme memiliki hubungan positif dan signifikan dengan prokrastinasi akademik. Dalam model penelitian, pengaruh langsung perfeksionisme terhadap prokrastinasi tercatat sebesar β = 0,22 dengan p < 0,001.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang dianggap sempurna tidak selalu menghasilkan kinerja akademik yang lebih baik. Dalam kondisi tertentu, tuntutan terhadap diri sendiri yang terlalu tinggi dapat berkaitan dengan kecenderungan menunda pekerjaan. Di tengah kemudahan teknologi AI, kondisi tersebut menjadi semakin menarik untuk diperhatikan. AI dapat membantu mahasiswa menyelesaikan berbagai tahapan pekerjaan, tetapi teknologi tersebut tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan psikologis yang mendasari perilaku belajar. Dengan kata lain, teknologi dapat membantu mengerjakan tugas, tetapi tidak otomatis menghilangkan alasan seseorang menunda tugas tersebut.
Efikasi Diri dan Integritas Akademik sebagai Faktor Penting
Berbeda dengan perfeksionisme, penelitian menemukan bahwa academic self-efficacy dan academic integrity memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan prokrastinasi akademik. Dalam model penelitian, pengaruh efikasi diri akademik terhadap prokrastinasi tercatat β = −0,34, sedangkan integritas akademik sebesar β = −0,16.
Efikasi diri akademik berkaitan dengan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuannya menjalankan berbagai tuntutan akademik. Sementara itu, integritas akademik berkaitan dengan nilai dan perilaku yang mendukung kejujuran, tanggung jawab, dan prinsip etis dalam aktivitas akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan kemampuan mahasiswa menghadapi era AI tidak cukup dilakukan melalui pelatihan teknis. Kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan kepercayaan diri dalam belajar dan landasan etika akademik.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika AI dapat menghasilkan teks, memberikan penjelasan, membantu menyusun ide, maupun menyediakan berbagai alternatif jawaban dalam waktu singkat. Kemudahan tersebut justru membuat kemampuan mahasiswa dalam melakukan evaluasi, verifikasi, dan pengambilan keputusan menjadi semakin penting.
AI Literacy Lebih dari Sekadar Bisa Menggunakan AI
Penelitian ini memberikan pemahaman bahwa literasi AI bukan sekadar kemampuan membuka aplikasi AI atau menuliskan prompt. Dalam penelitian tersebut, konstruk AI literacy mencakup sejumlah kemampuan, antara lain memahami AI, menerapkan AI, mendeteksi keluaran AI, memahami etika AI, menggunakan AI untuk pemecahan masalah, belajar dengan AI, hingga aspek persuasi dan regulasi emosi terkait AI.
Perspektif ini penting bagi dunia pendidikan. Mahasiswa yang memiliki literasi AI seharusnya bukan hanya mampu mendapatkan jawaban dari teknologi, tetapi juga mampu mempertanyakan kualitas jawaban tersebut. AI dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi pengguna tetap perlu memiliki kemampuan untuk menilai apakah informasi tersebut akurat, relevan, sesuai konteks, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, literasi AI pada akhirnya merupakan perpaduan antara kemampuan teknologi, berpikir kritis, pengelolaan diri, dan pertimbangan etis.
Relevansi bagi Pendidikan Kedokteran
Temuan penelitian ini juga memiliki relevansi bagi pendidikan kedokteran yang semakin berhadapan dengan perkembangan teknologi digital dan AI. Mahasiswa kedokteran menghadapi proses pembelajaran yang menuntut penguasaan pengetahuan luas, kemampuan berpikir kritis, keterampilan klinis, komunikasi, serta pengambilan keputusan. Dalam konteks tersebut, AI dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang potensial.
Namun, penggunaan AI dalam pendidikan kedokteran membutuhkan kehati-hatian yang lebih besar. Kemampuan mendapatkan jawaban dengan cepat tidak dapat disamakan dengan kemampuan memahami suatu masalah secara mendalam. Seorang calon dokter perlu mampu memeriksa sumber informasi, mempertanyakan validitas suatu jawaban, memahami keterbatasan teknologi, serta mempertimbangkan aspek etika dan keselamatan. AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi proses pembentukan kompetensi profesional tetap membutuhkan penalaran manusia.
Dalam konteks inilah temuan penelitian mengenai literasi AI menjadi relevan. Penggunaan teknologi dalam pendidikan kedokteran idealnya diarahkan untuk memperkuat proses berpikir dan belajar, bukan menggantikannya.
Penelitian Lintas Disiplin tentang Persoalan yang Semakin Dekat dengan Mahasiswa
Salah satu kekuatan penelitian ini terletak pada pendekatan lintas disiplin yang digunakan oleh para peneliti Universitas Gunadarma. Matrissya Hermita, Alia Rohani, dan Siska Sartika berasal dari Department of Psychology, Rama Dian Syah dari Department of Information System, dan Ruddy J. Suhatril dari Department of Informatics, Universitas Gunadarma.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan AI dalam pendidikan tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan teknologi. Di dalamnya terdapat dimensi psikologis, perilaku, etika, sistem informasi, dan kemampuan manusia dalam beradaptasi dengan teknologi.
Pendekatan semacam ini juga membuka ruang bagi pengembangan kajian yang lebih luas di lingkungan Universitas Gunadarma, khususnya dalam memahami hubungan antara manusia, teknologi, dan kesehatan dalam ekosistem digital.
Dari Kemampuan Menggunakan AI Menuju Kemampuan Mengendalikan Penggunaannya
Penelitian ini pada akhirnya memberikan pesan yang relevan bagi mahasiswa maupun institusi pendidikan. Tantangan utama di era AI bukan lagi sekadar membuat mahasiswa mampu menggunakan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara kritis, etis, produktif, dan bertanggung jawab.
Literasi AI dapat membantu mahasiswa menghadapi kompleksitas pembelajaran digital, tetapi manfaat tersebut perlu didukung oleh efikasi diri, integritas akademik, kemampuan mengatur diri, dan pemahaman terhadap keterbatasan AI. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengaruh AI terhadap perilaku belajar bersifat kontekstual dan tidak dapat disederhanakan menjadi “AI baik” atau “AI buruk”.
Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Gunadarma, perspektif tersebut menjadi relevan dalam mempersiapkan calon dokter yang tidak hanya kompeten dalam ilmu kedokteran, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi kesehatan secara bertanggung jawab.
Sebab, di era ketika AI semakin mudah digunakan, kompetensi yang semakin penting bukan hanya kemampuan mendapatkan jawaban, tetapi kemampuan mengetahui kapan harus mempercayai, memeriksa, mempertanyakan, dan menggunakan jawaban tersebut.
Profil Publikasi
Judul:
The Janus face of AI literacy: a dual-pathway model of its mitigating and exacerbating effects on academic procrastination
Penulis:
Matrissya Hermita, Alia Rohani, Rama Dian Syah, Ruddy J. Suhatril, dan Siska Sartika
Afiliasi:
Universitas Gunadarma
Jurnal:
Cogent Education
Volume: 13, Issue 1, 2026
Artikel: 2644679
DOI: 10.1080/2331186X.2026.2644679
